
INFOMEDIA NASIONAL, KOTA BEKASI – Ada keresahan yang diam-diam dirasakan oleh para pelestari budaya lokal di tengah gempuran tren modern. Salah satunya menghinggapi benak Sri Sunarni, pengrajin Batik Kota Bekasi yang sudah lebih dari dua belas tahun mendedikasikan hidupnya menjaga motif-motif resmi paten Pemkot Bekasi agar tetap hidup di tengah warganya sendiri.
Pertanyaan mendasarnya sederhana, namun menohok: bagaimana mungkin anak muda mencintai budaya daerahnya jika mereka bahkan belum pernah melihat atau mengenalnya secara langsung?
Jawaban atas kegelisahan itu berwujud nyata pada Senin (26/10/2026). Workshop Batik Sri di kawasan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, mendadak riuh oleh tawa dan decak kagum anak-anak muda. Puluhan siswa SMP IT Arkan Cendekia hadir bukan sekadar berkunjung, melainkan bersiap menorehkan canting pertama mereka di atas kain putih.

“Jujur, banyak siswa yang awalnya benar-benar masih awam. Mereka bahkan belum tahu kalau Kota Bekasi punya batik khas sendiri,” kenang Sri hangat.
Bagi Sri, mengenalkan batik lokal kepada generasi Z bukan sekadar urusan bisnis atau produksi, melainkan menyelamatkan identitas daerah. Ia tak ingin batik Bekasi bernasib malang—asing di tanah kelahiran sendiri sementara daerah lain sudah melesat jauh dengan identitas budayanya.
“Kalau bukan kita yang cepat-cepat melestarikan, siapa lagi? Jangan sampai anak-anak kita justru mencari budaya luar, padahal daerah kita sendiri punya kekayaan yang luar biasa,” imbuhnya penuh semangat.
Dari Rasa Bosan Menjadi Puas
Bayangan bahwa membatik itu kaku dan membosankan langsung terpancar dari raut wajah sebagian siswa kelas XI di awal sesi. Sebanyak 39 siswa putra yang hadir hari itu tampak hati-hati memegang canting berisi malam panas.
Namun, suasana berubah drastis begitu proses mencair. Saat goresan demi goresan mulai menyatu dengan warna dan motif khas batik, rasa penasaran berubah menjadi kepuasan.

“Awalnya memang ada anak-anak yang kelihatan bosan. Tapi begitu warna dan motifnya mulai muncul dan terlihat hasilnya yang indah, mereka langsung puas dan senang sekali,” cerita Sri sambil tersenyum melihat antusiasme para pelajar.
Nilai Pancasila dalam Selembar Kain
Keseruan tersebut turut disaksikan oleh Nouval Abdillah, guru Pendidikan Pancasila SMP IT Arkan Cendekia. Pihak sekolah memang sengaja memboyong total 81 siswanya dalam agenda outing class dua hari—sesi putra pada Senin (26/10/2026) dan sesi putri pada Selasa (27/10/2026).
Menurut Nouval, belajar membatik memiliki korelasi erat dengan mata pelajaran yang diampunya. Praktik langsung ini adalah wujud nyata dari pelestarian budaya lokal yang berakar kuat pada nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para siswa sejak dini tumbuh kesadarannya. Bahwa Kota Bekasi punya produk budaya yang membanggakan, dan sudah tugas kita bersama untuk merawat serta mengembangkannya,” pungkas Nouval.
Dari goresan tipis lilin malam di tangan para pelajar SMP IT Arkan Cendekia hari itu, sebuah harapan kembali disulam: agar warisan budaya Bekasi tidak pernah kehilangan tempat di rumahnya sendiri.






